PEREMPUAN, KEMISKINAN, DAN PARIWISATA
Keywords:
Perempuan, Kemiskinan, Pariwisata, Pemberdayaan Gender, Desa WisataSynopsis
Tulisan ini membahas keterkaitan antara perempuan, kemiskinan, dan pariwisata dalam konteks pembangunan daerah, khususnya di Kabupaten Trenggalek. Meskipun akses perempuan di sektor ekonomi dan politik terus meningkat, budaya patriarki masih menjadi penghambat utama yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat dan membatasi peran mereka pada ranah domestik. Pandemi Covid-19 semakin memperburuk kondisi ini dengan meningkatnya beban kerja domestik, kerentanan ekonomi, serta kasus kekerasan dalam rumah tangga. Fenomena ini berkontribusi pada feminisasi kemiskinan, di mana perempuan menjadi kelompok yang lebih rentan mengalami kemiskinan berkepanjangan dan kesulitan keluar dari kondisi tersebut. Dalam sektor pariwisata, yang sebenarnya memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi, perempuan masih menghadapi ketimpangan peran, upah, dan kesempatan kerja, meskipun jumlah partisipasi mereka cukup tinggi. Ketimpangan ini diperparah oleh stereotip gender dan dominasi laki-laki dalam posisi strategis. Namun demikian, pariwisata berbasis komunitas, khususnya desa wisata, menawarkan peluang untuk meningkatkan keberdayaan perempuan melalui pelibatan aktif dalam pengelolaan dan pengembangan destinasi. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Trenggalek yang mendorong pengembangan desa wisata serta pemberdayaan perempuan menjadi langkah strategis dalam pemulihan ekonomi pasca pandemi. Peningkatan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) terbukti memiliki korelasi positif terhadap penurunan kemiskinan. Oleh karena itu, penguatan peran perempuan melalui peningkatan akses terhadap pendapatan, pendidikan, dan kesehatan, serta penghapusan budaya patriarki, menjadi kunci dalam menciptakan pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan gender.
Downloads
Downloads
Published
Series
Categories
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.